Tulisan pertamaku tahun ini. Patah-patah kutulis sembari kupandangi kemacetan Jakarta yang pelan-pelan terurai. Tapi tidak dengan isi kepalaku. Maka aku menulis sebagai upayaku mengurai kemacetan di dalam sana. Harapanku memadamkan riuh yang kutabuh sendiri. Hari ini rasanya panjang sekali. Lelah dan lungkrah. Badanku seperti ditinju bertubi-tubi dan pikiranku penuh distraksi sedangkan ragaku terus kesana kemari. Jam sepuluh malam dan aku masih berpakaian seperti tadi pagi... aku menyerah. Aku gagal mengurainya malam ini.
sebebas-sebasnya udara. sederas-derasnya air mengalir. begitulah aku ingin hidupku bergulir. membuka seribu pintu, menjelajah belantara baru, berjalan, berlari, bertelanjang kaki. tanpa belenggu di kakiku, kekang di leherku, beban di pundakku, dan… kata-kata di telingaku. aku ingin menjadi sepenuhnya aku. lalu suatu saat seribu tahun lagi ketika aku mati, tulisanku tidak. membara dan berapi-api.
Berhanyut-hanyut perasaanku.
Jatuh tergelincir.
Luruh mencair.
Seolah ada yang bergelayut.
Berat membelenggu, menyiksaku.
Enggan kulepas.
Lalu kubiarkan mengikisku.
Membentuk aku.
Selamat tahun baru..
Bagi seseorang yang selalu menemukan diksi untuk mengejawantahkan isi kepala, kali ini aku kehilangan kata-kata. Tidak hanya hari ini. Kemarin dan selumbari pun kalutku tak mampu lagi menjelma sekumpulan frasa. Segalanya berputar-putar berhenti di kepala, lalu *poof*, hilang begitu saja. Ingatanku menjadi semakin pendek. Seharusnya, sebagaimana yang sudah-sudah, semua yang hilang di kepala setidaknya tersimpan dalam tulisan. Tapi ternyata tidak kali ini...
Aku percaya bahwa takdir Allah pastilah yang terbaik. Pun ketika Allah memberikan cobaan. Bukan karena kita mampu dan sanggup, tapi karena kita akan dimampukan dan disanggupkan. Seperti awal tahun ini yang kuawali dengan berlari. Sedikit terbang tetapi membumi. Meskipun pada akhirnya sayapku patah. Sudahlah, toh ini bukan kali pertamaku terjatuh.
Aku tidak pernah tahu dari mana harus memulai. Seringkali aku tiba-tiba sudah berdiri diantara reruntuhan untuk bersiap membangun kembali. Seperti tahun ini. Ketika aku merasa sudah tiba saatnya, Allah mengambilnya begitu cepat seolah berkata belum dan bukan. Menunggu masih jadi takdir terbaik bagiku. Tidak apa-apa. Jalan hidupku sudah di luar perhitungan manusiaku. Dan aku baik-baik saja.
Allah sayang padaku. Prasangkaku pada Tuhanku dan prasangka Tuhanku padaku yang paling penting. Semoga... apa kata orang, aku tetap bergeming. Tuhan Penciptaku, Maha Tahu Tentangku.
Pagi ini aku bangun dan berharap untuk menemukan alasan lain kenapa aku harus terus bertahan untuk berjuang. Hari ini rasanya seperti aku sedang berlari-lari di hutan lalu tersesat tanpa penunjuk arah dan tak tahu jalan untuk keluar. Aku mengandalkan instingku yang lelah. Kalau hari ini belum bisa, mungkin besok atau lusa. Atau bisa saja minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau tidak sama sekali. Perbekalanku yang tidak seberapa ini hampir habis dan belum kutemukan air untuk kuminum dan tumbuhan liar untuk kumakan. Aku sendirian.
Aku sudah lupa rasanya keadaan di luar. Bayangan tentang masa depan dan masa laluku tertutup oleh pohon-pohon yang mungkin usianya bahkan lebih tua dari kakek buyutku. Hari ini, ribuan pertanyaan berdengung di kepalaku seperti suara kodok setelah hujan. Semua tentang bagaimana. Bagaimana jika ternyata aku tidak akan pernah keluar? Bagaimana rasanya jika tiba-tiba melihat keajaiban di balik pohon rindang? Harapan dan keputusasaanku bersahut-sahutan dalam kepalaku.
Seharusnya sekarang tidak termasuk waktu senggang. Kalaupun iya, seharusnya masih banyak hal yang harus aku kerjakan. Tapi entah kenapa rasanya aku ingin menulis. Aku sedang duduk menghadap ke arah luar pintu. Hujan deras sedang turun sekarang. Angin dingin menerpa dari pintu dan jendela yang terbuka, juga dari kipas angin yang menyala di sampingku. Kira-kira beginilah keadaan ketika moodku tiba-tiba menjadi sangat baik untuk menulis. Oh dan tentu saja ada lagu yang sedang menemaniku. Aku tidak tahu apa judulnya tapi yang jelas ini lagunya Hivi!. Oh, what a great vibes...
Sekarang sudah mendekati jam pulang di kantorku. Pekerjaan untuk hari ini sudah kuselesaikan. Ketika sampai di paragraf ini, hujan sedang turun semakin deras. Aku membayangkan betapa kuyupnya aku nanti ketika perjalanan pulang. Tapi tak apa. Alhamdulillah. Hujan adalah rizki dari Tuhan. Aku tidak akan mengeluhkan. Oiya, suara hujan menghisap habis lagu yang sedang kuputar. Maklum, aku sedang berada di luar ruangan. Di meja resepsionis menghadap tiang bendera. Bisakah kalian membayangkannya?
Hujan masih saja deras di paragraf ketiga. Baunya semerbak memenuhi tempatku berpijak. Ah, betapa sore yang indah.
Tiba-tiba saja sudah akhir November. Sepertinya aku tidak pernah benar-benar serius saat berkata mau menulis lebih banyak tahun ini. Meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya begitu karena sungguh jika kalian membaca draft dalam notes di hpku, akan kalian temukan puluhan catatan yang memang tidak pernah aku rencanakan untuk dipublikasikan. Biarlah kemarahan dan gundah gulanaku tersimpan rapi untukku sendiri.
Anyway, apa kabar? Masihkah kalian rajin menulis dan membaca? Aku iya. Semata-mata untuk menjaga kewarasanku yang semakin hari semakin kupertanyakan. Haha. Tapi sedari dulu, sepertinya disini menjadi tempatku kabur sejenak untuk melepas penat. Kudoakan kalian juga paling tidak punya satu atau dua tempat untuk kabur sepertiku. Tidak perlu lama, tapi melegakan.
Aku tidak tau lagi apa yang harus kutulis disini. Tetapi jika aku boleh menyontek tulisan dari notesku, maka izinkan aku bercerita tentang apa-apa yang kurasakan akhir-akhir ini. Segalanya baik, alhamdulillah. Tidak ada yang terlalu istimewa. Tetapi jika boleh jujur, sesungguhnya aku tidak bisa mendeskripsikan apa yang sedang kurasakan setelah semua yang kujalani. Sedihkah? Keceweakah? Bahagiakah? Pasrahkah? Ikhlaskah? Marahkah? Berharapkah? Aku tidak benar-benar tau.
Pintu diketuk, harapan terbentuk
Belum terbuka hingga masa yang lama
Mungkinkah aku berdiri di depan pintu yang tak seharusnya?
Pertanyaan itu mengudara, harapan sejenak sirna
Seberapa jauh ujung dunia?
Mungkin batasku yang kurang luas
Berdiri lagi habis jatuh walau payah
Terkoyak harga diri, nurani, ilusi, mimpi dan kata hati
Berdetak jantungku bagai jarum jam yang berisik
Tik... Tok.. Tik.. Tok... Tik... Tok...
Mungkin ada yang terlewatkan oleh usaha
Bukankah manusia tak seharusnya menyerah karena punya Tuhan Yang Maha Pemurah?
Belum terbuka hingga masa yang lama
Mungkinkah aku berdiri di depan pintu yang tak seharusnya?
Pertanyaan itu mengudara, harapan sejenak sirna
Seberapa jauh ujung dunia?
Mungkin batasku yang kurang luas
Berdiri lagi habis jatuh walau payah
Terkoyak harga diri, nurani, ilusi, mimpi dan kata hati
Berdetak jantungku bagai jarum jam yang berisik
Tik... Tok.. Tik.. Tok... Tik... Tok...
Mungkin ada yang terlewatkan oleh usaha
Bukankah manusia tak seharusnya menyerah karena punya Tuhan Yang Maha Pemurah?
Aku menulis lagi. Tapi melupakan laporanku. Wah, tiba-tiba saja sudah Oktober. Cepat sekali. Alhamdulillah, tahun ini aku kembali kesini lebih sering daripada tahun lalu, tahun 2017, dan tahun 2016. Apakah itu artinya aku siap untuk menulis lagi lebih sering? Entahlah. Aku tidak terlalu yakin. 3 tulisan sebelum ini kutulis dalam waktu yang berdekatan. Dalam suasana yang tidak mengenakkan. Apa aku harus terluka lebih dulu supaya jemari ini lancar berkata-kata?
Hari ini padahal perasaanku biasa-biasa saja. Sedihnya sudah memuncak malam Jumat kemarin. Semalaman. Seharian. Wah, tiba-tiba saja aku menemui titik balik kehidupan yang entah keberapa. Jika boleh kugambarkan dan kubicarakan, dalam sebulan terakhir, perasaanku kacau sedih. Duka. Duka. Duka. Lara. Sepertinya aku terlalu ambil pusing untuk banyak hal. Tapi begitulah aku. Tak pernah benar-benar berubah.
Kemudian sekarang, aku kembali menebak-nebak banyak hal. Mencoba menerka-nerka apa maksud dan rencana Tuhan kepadaku. Tapi yasudahlah. Toh selama ini rencana Tuhan selalu berhasil padaku :)
Selamat awal bulan. Semoga semua pilu tertinggal di bulan lalu..
Hari ini padahal perasaanku biasa-biasa saja. Sedihnya sudah memuncak malam Jumat kemarin. Semalaman. Seharian. Wah, tiba-tiba saja aku menemui titik balik kehidupan yang entah keberapa. Jika boleh kugambarkan dan kubicarakan, dalam sebulan terakhir, perasaanku kacau sedih. Duka. Duka. Duka. Lara. Sepertinya aku terlalu ambil pusing untuk banyak hal. Tapi begitulah aku. Tak pernah benar-benar berubah.
Kemudian sekarang, aku kembali menebak-nebak banyak hal. Mencoba menerka-nerka apa maksud dan rencana Tuhan kepadaku. Tapi yasudahlah. Toh selama ini rencana Tuhan selalu berhasil padaku :)
Selamat awal bulan. Semoga semua pilu tertinggal di bulan lalu..
Aku mengenal semua rasa dalam diriku. Senang, sedih, marah, haru, bangga, banyaklah. Tapi yang paling gawat adalah ketika aku merasa marah dan sedih sekaligus. Otakku benar-benar gabisa diajak kompromi. Berisik minta ampun. Lebih berisik dari mulutku yang sudah berisik. Lalu lari kemana? Tentu saja kesini. Kutulis disini.
Kadang aku tidak mengerti dengan diriku. Kenapa aku tiba-tiba bisa sepeduli ini dengan urusan-urusan yang dulu kuabaikan. Untuk satu hal ini, aku ingin menjadi aku yang dulu. Sepertinya lebih baik bagi kejiwaanku. Tapi selainnya tidak. Aku bangga dengan diriku yang sekarang. See? Pikiranku memang serumit itu.
Semakin banyak orang yang kukenal dan kutemui, respon otak dan hatiku cuman dua “Ya Allah keren bgt... aku nanti mau jadi orang yang kayak gitu” atau “Ya Allah... jangan sampai nanti aku jadi manusia kayak gitu”. Udah. Lalu selebihnya kembali tak peduli. Aku tidak pernah terikat dan mengikat diriku. Untuk hal-hal tertentu. Wah, ini beda lagi. Rumit lagi.
Kau tau tawa ini datang darimana? Dari rasa sakit yang menumpuk sejak bayi. Memang bayi bisa membenci? Kenapa tidak? Jika yang selama ini ia lihat adalah dunia yang penuh dengan kebencian. Dan kebohongan tentu saja. Tidak lupa dengan kedoknya yang manis dan warna-warni. Bungkus. Selalu menarik seperti yang seharusnya.
Luka ini kubalut dengan tawa. Dan Chaca. Ah sungguh tak bisa kubayangkan hidupku tanpa dia. Aku tidak mendramatisir. Tapi dengan hanya hadir, Chaca membuat bebanku 70% terangkat. Meskipun kemudian pikiranku bandel dan air mataku sederas hujan Bulan Desember. Hahaha. Lihat kan? Aku tertawa.
Ah sudahlah. Biar kata-kata yang tidak ada habisnya ini tetap menggema dalam otakku. Selamat bermalam minggu.
Kadang aku tidak mengerti dengan diriku. Kenapa aku tiba-tiba bisa sepeduli ini dengan urusan-urusan yang dulu kuabaikan. Untuk satu hal ini, aku ingin menjadi aku yang dulu. Sepertinya lebih baik bagi kejiwaanku. Tapi selainnya tidak. Aku bangga dengan diriku yang sekarang. See? Pikiranku memang serumit itu.
Semakin banyak orang yang kukenal dan kutemui, respon otak dan hatiku cuman dua “Ya Allah keren bgt... aku nanti mau jadi orang yang kayak gitu” atau “Ya Allah... jangan sampai nanti aku jadi manusia kayak gitu”. Udah. Lalu selebihnya kembali tak peduli. Aku tidak pernah terikat dan mengikat diriku. Untuk hal-hal tertentu. Wah, ini beda lagi. Rumit lagi.
Kau tau tawa ini datang darimana? Dari rasa sakit yang menumpuk sejak bayi. Memang bayi bisa membenci? Kenapa tidak? Jika yang selama ini ia lihat adalah dunia yang penuh dengan kebencian. Dan kebohongan tentu saja. Tidak lupa dengan kedoknya yang manis dan warna-warni. Bungkus. Selalu menarik seperti yang seharusnya.
Luka ini kubalut dengan tawa. Dan Chaca. Ah sungguh tak bisa kubayangkan hidupku tanpa dia. Aku tidak mendramatisir. Tapi dengan hanya hadir, Chaca membuat bebanku 70% terangkat. Meskipun kemudian pikiranku bandel dan air mataku sederas hujan Bulan Desember. Hahaha. Lihat kan? Aku tertawa.
Ah sudahlah. Biar kata-kata yang tidak ada habisnya ini tetap menggema dalam otakku. Selamat bermalam minggu.
Kukira aku sampah.
Terbuang, terlupakan, terapung dan tenggelam.
Tapi aku tidak pernah hilang.
Bahkan 400 tahun kemudian.
Bahkan setelah manusia-manusia yang membuangku mati terkubur harga diri.
Tersisa aku yang sedari awal memang sendiri.
Kukira aku tak peduli.
Pada tangan-tangan yang membuangku.
Pada tawa yang menghantui malamku.
Pada arus yang menghanyutkanku.
Pada tanah yang memelukku terlalu erat.
Tapi ternyata iya.
Oh sungguh tiba-tiba aku ingin menjadi manusia.
Hidup dan kaya raya.
Membeli semua bualan omong kosong mereka.
Tentang mencintai yang tiada batasnya.
Terbuang, terlupakan, terapung dan tenggelam.
Tapi aku tidak pernah hilang.
Bahkan 400 tahun kemudian.
Bahkan setelah manusia-manusia yang membuangku mati terkubur harga diri.
Tersisa aku yang sedari awal memang sendiri.
Kukira aku tak peduli.
Pada tangan-tangan yang membuangku.
Pada tawa yang menghantui malamku.
Pada arus yang menghanyutkanku.
Pada tanah yang memelukku terlalu erat.
Tapi ternyata iya.
Oh sungguh tiba-tiba aku ingin menjadi manusia.
Hidup dan kaya raya.
Membeli semua bualan omong kosong mereka.
Tentang mencintai yang tiada batasnya.
Tadi malam, di bawah bayang-bayang, aku dan Chaca tersadar dari diam. Tenggelam dalam obrolan malam yang panjang. Katanya, pikiranku terlalu rumit dan sibuk. Tak perlu kau pahami, jawabku. Cukup cintai aku yang seperti ini dan dengarkan.
Chaca tau aku suka menulis. Kata dia, menulislah tapi jangan sedih. Dia suka tulisanku yang kacau. Tapi tak suka hatiku yang galau. Menulis. Bercerita dengan ketukan. Aku tau itu membuatku sejenak hilang. Selain berenang tentu saja.
Pikiranku hanya ingin merasa aman, keluhku, hampir setiap hari. Jangan terlalu kau ambil hati, tenang Chaca, hampir setiap hari juga. Lalu aku menangis. Tersedu. Dalam waktu yang tidak sebentar. Berharap semua kekacauan di otakku akan mengalir begitu saja. Meskipun nyatanya tidak. Baju Chaca basah. Maaf. Tapi itu membuatku nyaman. Setidaknya dalam kegaduhan yang kubuat sendiri, aku masih menemukan pijakan untuk sembunyi.
Dua puluh lima tahun hidupku. Kuhabiskan 10 tahun terakhir bertumbuh dengan Chaca. Bagaimana aku tidak merasa nyaman? Mungkin aku rakus. Aku terlalu buta untuk melihat bahwa kebahagiaan bersamanya saja harusnya sudah cukup. Tak perlu memaksakan apa yang sudah sejak aku lahir tak bisa dipaksakan. Aku berharap apa? Tidak. Aku tidak berbicara tentang orang ketiga. Tapi tentang orang-orang sebelum aku. Sebelum ragaku.
Chaca tau aku suka menulis. Kata dia, menulislah tapi jangan sedih. Dia suka tulisanku yang kacau. Tapi tak suka hatiku yang galau. Menulis. Bercerita dengan ketukan. Aku tau itu membuatku sejenak hilang. Selain berenang tentu saja.
Pikiranku hanya ingin merasa aman, keluhku, hampir setiap hari. Jangan terlalu kau ambil hati, tenang Chaca, hampir setiap hari juga. Lalu aku menangis. Tersedu. Dalam waktu yang tidak sebentar. Berharap semua kekacauan di otakku akan mengalir begitu saja. Meskipun nyatanya tidak. Baju Chaca basah. Maaf. Tapi itu membuatku nyaman. Setidaknya dalam kegaduhan yang kubuat sendiri, aku masih menemukan pijakan untuk sembunyi.
Dua puluh lima tahun hidupku. Kuhabiskan 10 tahun terakhir bertumbuh dengan Chaca. Bagaimana aku tidak merasa nyaman? Mungkin aku rakus. Aku terlalu buta untuk melihat bahwa kebahagiaan bersamanya saja harusnya sudah cukup. Tak perlu memaksakan apa yang sudah sejak aku lahir tak bisa dipaksakan. Aku berharap apa? Tidak. Aku tidak berbicara tentang orang ketiga. Tapi tentang orang-orang sebelum aku. Sebelum ragaku.
Cerita bermula.
Dua
insan mendamba tapi tiada daya.
Kemudian
aku.
Berlari.
Berlari. Berlari. Terbuang. Dibuang. Disayang.
Kukira
hidupku sesederhana menggoreng telur.
Pecah,
rasa, panas, terbalik lalu tersaji.
Nyatanya
tidak.
Penuh
luka dan sayatan dan belas kasihan.
Sungguh
aku tak butuh. Aku tak perlu.
Bagiku,
berdiri di kaki sendiri sudah cukup.
Lebih
dari cukup.
Meskipun
angin menggoyang.
Kaki
menendang menjatuhkan.
Mulut
berdusta diiringi tawa.
Aku
tak peduli. Bagiku, berdiri lebih berarti.
Berdiri
di kaki sendiri.
Lalu
berlari. Berlari. Berlari.
Kutinggalkan
inti yang menyakiti.
Meskipun
nyatanya tidak.
Darah
tidak pernah lebih kental dari air bagiku.
Tapi,
ya, ia memburu dan membelenggu.
Matilah
rasa. Putuslah ikatan.
Biar
hatiku Tuhan saja yang atur.
Kalian,
diam dan hilang saja.
Biar
aku bersama mereka yang bagiku lebih berarti daripada dunia dan seisinya.
Tuhan
sembuhkan luka.
Tuhan
sembuhkan luka.
Tuhan,
aku bertanya.
Kenapa?
Mengutip kata-kata Monica tadi siang yang kurang lebih seperti “ini tuh hal baik pertama yang terjadi setelah sekian lama”. Damn, that was so deep. Mungkin ada benarnya. Tapi tidak sepenuhnya. Karena setelah melalui banyak hal dalam 1-2 tahun terakhir, definisi hal baik dalam kehidupanku bener-bener loncat indah dari sesuatu yang besar ke sesuatu yang remeh temeh. And that was a good thing actually. Tapi, yang terjadi hari ini memang benar-benar hal yang baik. Sangat baik.
Seperti yang sudah-sudah. Dalam kehidupanku, aku punya rencana, aku punya harapan, keinginan, juga banyak daftar lain yang sejenis, dan Allah-lah yang pada akhirnya menentukan. Entah seperti seolah aku lupa jika Allah adalah sebaik-baiknya perencana, atau memang aku yang pada dasarnya adalah hamba rendahan, tapi banyak hal masih sering aku keluhkan. Padahal at the end of the day yang kupikirkan seringkali adalah... “what did I do to deserve something like this?”😂
Hampir 25 tahun umurku, tapi rasanya baru setahun ini aku benar-benar hidup seperti orang seusiaku. Anggap saja aku terlambat dewasa. Tapi percayalah, menjadi dewasa secara instan adalah proses yang benar-benar melelahkan. Apa-apa yang tidak perlu aku ketahui sebelumnya, harus kupahami. Apa-apa yang luput dariku sebelumnya, harus aku telusuri. Bahkan apa-apa yang tak begitu berharga sebelumnya, tampak sangat menggiurkan. Dan masih banyak lagi. Namanya juga hidup. Cepat atau lambat kita harus menjadi dewasa.
Anyway, kata Monica, ada dua jenis teman: yang bisa menjaga hubungan jarak jauh, dan yang tidak. Sepertinya aku yang kedua. Tapi kata dia, aku yang pertama. Kemudian aku teringat Qorinna, sohib gabutku. Yang bersamaku dalam dunia virtual 24/7 (atau mungkin kurang sedikit hehe). Iya, mungkin aku tipe yang pertama. Karena siapapun yang membutuhkanku, aku bener-bener one-click-away. Bertambah dewasa secara instan seperti yang kusebutkan tadi juga membuatku sedikit sulit berteman dengan orang baru. Makanya sebisa mungkin aku menjaga mereka-mereka yang sudah ada dan tinggal di hatiku. Jika boleh jujur, instead of family-person, I’m more like friend-person(?). Yah meskipun aku tetap kehilangan beberapa teman.. Hehe
Jadi kemana-mana gini bahasannya. Oke, balik lagi ke judul. Me-manage rasa syukur.
Kedengarannya seperti omong kosong. Tapi dalam setahun ini aku bener-bener belajar bahwa hal baik terjadi di sekitar kita setiap hari. Aku yang sehat. Aku yang bisa makan kenyang. Aku yang bisa tidur nyenyak. Aku yang punya kawan bercerita di malam hari. Aku yang punya keluarga untuk pulang. Aku yang punya teman-teman yang bisa kuhubungi di waktu senggang mereka. Dan rasanya masih banyak hal baik yang ada di sekelilingku yang tidak aku sebutkan disini. Bagiku, Allah benar-benar baik. Sungguh baik. Sangat baik. Paling baik.
Memang benar, hidup tidak selamanya di atas. Apa-apa yang dulu kumiliki dan bisa aku banggakan lama-lama menjadi beban dan juga bayang-bayang. Jadi gabisa move on. Jadi ga bisa bahagia dengan apa yang tersisa. Apa yang aku miliki. Dan dari sanalah aku belajar untuk keluar dari zona nyamanku. Meraba-raba renjana yang masih tersisa dan bisa kujadikan pijakan. Bertukar kabar bahagia dengan kawan-kawanku karena sungguh bahagia itu menular. Pun juga asa yang menggebu. Karena dalam masa-masa sulit yang kulalui kemarin, tidak merasa sendirian dan memiliki pegangan adalah hal paling penting untuk tetap bertahan. Makanya, meskipun aku mulai kehilangan nilai atas diriku, aku menggenggam erat kawan-kawanku untuk tetap mengingat siapa aku. Kawan hidup dan kawan karibku.
Ah, kalau dipikir-pikir lagi memang sesungguhnya hidupku sedari awal sudah diberkahi teman-teman yang menyenangkan. Rejeki yang tak ternilai. Alasan untuk tetap bersyukur disamping alasan-alasan lainnya....
Jangan bangga pacaran lama. Sekarang jamannya pacaran sama siapa, nikahnya sama siapa.Jujur, dulu aku paling takut kalo ada yang ngecengin begitu. Takut kejadian. Kalo kamu termasuk salah satu dari pasangan dengan kurun waktu pacaran yang lumayan lama, hal-hal kayak gini pasti udah ga asing. Adaaaaaa... aja yang ngomong gitu. Makanya.. dulu sebelum nikah, aku kayak yang rajin banget berdoa sama Allah "Ya Allah jodohkan aku sama Chaca di dunia sampai akhirat" wkwkwk.
Dan VOILA! Kesampaian. Hehehe.
Tapi, bukan kehidupan namanya kalau nggak ngerasain ups and downs. Jalan menuju pelaminanku dan Chaca terjal banget cuy! Kalo my best friends read this kalian pasti ingetlah gimana nangis-nangisnya aku, sedih-sedihnya aku dan marah-marahnya aku. My fellow readers, yes, I've been there. Ada kali 3 drafts di blog yang isinya marah-marah. Tapi untungnya ga sempat aku post. Intinya adalah, apa yang seringkali orang-orang lihat baik-baik saja hampir tidak selalu baik-baik saja di balik layar. It doesn't mean that our relationship is fake and we're faking the lovey dovey poses on instagram. No, it's not. It's just how people in our circle treat us that makes a bit....disappointed and sad? But, chill.. everything is under control now.
Intinya...yang sebenar-benarnya ingin aku katakan adalah... ENJOY YOUR TIME. Everyone has their own timing. If you're a single now, good for you. If you're married, good for you. If you're in relationship, it's also good for you. Gausah terlalu dipikirin omongan orang. Kalo nyakitin, anggep aja mereka becanda. Stay blessed and not stressed! Xoxo
Trakhir nih trakhir... ini penting.. Mantra yang sebelum menikah aku ulang-ulang.
How cool! Wkwkwk. Rasanya bangga sekaligus sedikit tertekan dengan gelar Sarjana Ilmu Politik dari salah satu universitas terbaik di negeri ini. Well, mungkin karena aku bukanlah salah satu dari sekian banyak mahasiswa berprestasi di kampusku. Cuman satu dari sedikit mahasiswa tidak kompeten yang ada di sana. Lulus dengan nilai super pas-pasan dan ilmu yang terserap pun juga pas-pasan. Semua serba pas-pasan. Bahkan sejujurnya setelah melalui semua proses ini, I don't feel any different. Seperti apa yang pernah aku bilang sebelumnya, aku selalu berdoa pada Tuhan tentang hidup yang super normal. Dan beginilah. But still, I'm proud of myself. Sesulit apapun, serumit apapun, pada akhirnya aku melaluinya, menyelesaikannya. Hehe
Well.. Someone is being productive today. Two blog posts in a row. Or maybe it's gonna be three. Dunno. Depends on my mood later. Lately, I feel empty. I feel like I don't have any dream to reach, any goals to achieve, anything to pursue. I don't know. Maybe it's the comfort zone or maybe it's static zone (?). It's always fun to meet someone with starry eyes who's talking about their dream, their passion, their life goals. It's like, no matter how life treats us, there will be a reason to survive. I envy them. I used to be like that when I was younger.
Is it the answer? I always pray for the simplest life. And God gives me this kind of life. Maybe it's God's way to teach me how to live my life. Maybe I've been destined to do big things in my life. Who knows? I think it's time to set another dreams, set another goals, and start to pursue them. Am I happy enough? No. I am not. But I'm on my way.
Is it the answer? I always pray for the simplest life. And God gives me this kind of life. Maybe it's God's way to teach me how to live my life. Maybe I've been destined to do big things in my life. Who knows? I think it's time to set another dreams, set another goals, and start to pursue them. Am I happy enough? No. I am not. But I'm on my way.
Alhamdulillah... alhamdulillah... alhamdulillah....
Tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini selain alhamdulillah, sebagai ucapan syukurku yang paling mendalam kepada Allah atas segala hal yang sudah terlewati selama beberapa bulan ini...
Well, it's September already. Dan alhamdulillah, lagi, ada banyak urusan yang meskipun tidak mudah tapi telah berhasil kuselesaikan. Meskipun meleset dari perkiraan waktu yang seharusnya, meskipun jatuh bangun, meskipun air mata tercurah disana sini wkwkwkwk, alhamdulillah... aku bisa bertahan sampai akhir. As usual, as always. Selesai sudah. Hehehe. But it's also a new beginning. Untuk rencana Allah selanjutnya, apapun itu.
Memang butuh waktu lebih lama dari orang lain untuk menyadari, tapi pada akhirnya, memang benar, segimanapun kita, mahluk, berencana, tetaplah Allah yang menentukan hasilnya. Jadi ya... sekarang aku menjalani hari-hariku lebih ke "yaudahlah..." "iya udah.." dan lebih go with the flow. Masih menggebu-gebu, tapi di ujung tujuanku masih menyisakan tempat untuk legowo dengan kemungkinan apapun yang nanti akan terjadi. Life is full of surprise dan aku lebih suka untuk tidak menebak-nebak.
Trakhir menulis disini bulan Maret. Berarti sudah setengah tahun yang lalu. Cepatnya....
April.. Mei... Juni... Juli... Agustus.... dan sekarang sudah September. Kalau dipikir-pikir ternyata cepat yaaaa... Meskipun saat menjalaninya tidak begitu. ACC skripsi, sidang pendadaran, bulan ramadhan, lebaran idul fitri, revisian, hiruk pikuk menjelang wisuda, sampai akhirnya wisuda dan juga lebaran idul adha. Kalau dibikin list memang cuman sedikit. Tapi ketika diceritakan, wah... rasanya akan sangat panjang. Mungkin lain kali.
Last but not least, hey there, future me, am I on the right track? I wish I am. Hehe
Tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini selain alhamdulillah, sebagai ucapan syukurku yang paling mendalam kepada Allah atas segala hal yang sudah terlewati selama beberapa bulan ini...
Well, it's September already. Dan alhamdulillah, lagi, ada banyak urusan yang meskipun tidak mudah tapi telah berhasil kuselesaikan. Meskipun meleset dari perkiraan waktu yang seharusnya, meskipun jatuh bangun, meskipun air mata tercurah disana sini wkwkwkwk, alhamdulillah... aku bisa bertahan sampai akhir. As usual, as always. Selesai sudah. Hehehe. But it's also a new beginning. Untuk rencana Allah selanjutnya, apapun itu.
Memang butuh waktu lebih lama dari orang lain untuk menyadari, tapi pada akhirnya, memang benar, segimanapun kita, mahluk, berencana, tetaplah Allah yang menentukan hasilnya. Jadi ya... sekarang aku menjalani hari-hariku lebih ke "yaudahlah..." "iya udah.." dan lebih go with the flow. Masih menggebu-gebu, tapi di ujung tujuanku masih menyisakan tempat untuk legowo dengan kemungkinan apapun yang nanti akan terjadi. Life is full of surprise dan aku lebih suka untuk tidak menebak-nebak.
Trakhir menulis disini bulan Maret. Berarti sudah setengah tahun yang lalu. Cepatnya....
April.. Mei... Juni... Juli... Agustus.... dan sekarang sudah September. Kalau dipikir-pikir ternyata cepat yaaaa... Meskipun saat menjalaninya tidak begitu. ACC skripsi, sidang pendadaran, bulan ramadhan, lebaran idul fitri, revisian, hiruk pikuk menjelang wisuda, sampai akhirnya wisuda dan juga lebaran idul adha. Kalau dibikin list memang cuman sedikit. Tapi ketika diceritakan, wah... rasanya akan sangat panjang. Mungkin lain kali.
Last but not least, hey there, future me, am I on the right track? I wish I am. Hehe
Instead of finishing my "skripsi", here I am. Writing a post for my blog. And yea, this is super rare selfie of me. And no, this is not me right now.
Setelah melewati beberapa periode wisuda, you know..rasanya tuh kayak yang "HELLOOOOOO... NGAPAIN AJA LO SELAMA INI?" "KEMANA AJAAAAA?" blalalala. And believe me, it's kinda suck! I hate myself. I hate my mood. I hate everything. Kesel aja bawaannya. Dulu, waktu SMA aku tuh pernah semacam bikin janji sama diriku sendiri kalo seberat apapun tugas kuliah nanti, aku nggak bakal ngeluh. And I'M NOT. But skripsi... Rasanya tuh kayak...tau deh.. Nggak bisa digambarin.
Padahal, dulu kalo liat orang stress karena skripsi bawaannya kayak mau nyinyir aja hahaha. Tapi ternyata...emang berdarah-darah perjuangannya. Ga deng. Terlalu mendramatisir dikit. Skripsi tu gampang kok. Tinggal dikerjain. Ngumpulin moodnya ituloooooh! Ya Allah.. Entah harus butuh tekanan kayak apa baru bisa mulai dan langsung kelar. Dan aku tuh tipe deadliner banget. I work under pressure. Kalo nggak ada pressurenya? Ampunlah. Parah deh pokoknya.
Mungkin karena aku jarang ngeblog kali ya.. jadi kayak nggak terbiasa lagi sama kata-kata. Hahaha. Kerjaanku hari-hari cuman goler-goler aja. Nggak jelas banget. Mau ngapa-ngapain serba nanggung karena skripsi belum kelar. Kesel sendiri kan jadinya? Ngapa-ngapain males, ngapa-ngapain nanggung, satu-satunya jalan keluar cuman kelarin skripsi trus move on ke kegiatan yang lain. Tapi sekarang malah lagi stuck banget. Kalo kata pepatah "hidup segan, matipun tak mau" kali ya..
Hahaha.. Yaudah deh. Udah mau jam dua malem. Mau nyekripsi lagi. Siapa tau besok kelar. Yakan?
Btw buat siapapun kamu, pejuang skripsi di luar sana.. "SEMANGAT YAAAAA!!! I KNOW EXACTLY HOW YOU FEEL. LET'S FIGHT TOGETHER!!!"






