Muara

by - 9:17 PM


Cerita bermula.
Dua insan mendamba tapi tiada daya.
Kemudian aku.
Berlari. Berlari. Berlari. Terbuang. Dibuang. Disayang.
Kukira hidupku sesederhana menggoreng telur.
Pecah, rasa, panas, terbalik lalu tersaji.
Nyatanya tidak.
Penuh luka dan sayatan dan belas kasihan.
Sungguh aku tak butuh. Aku tak perlu.
Bagiku, berdiri di kaki sendiri sudah cukup.
Lebih dari cukup.
Meskipun angin menggoyang.
Kaki menendang menjatuhkan.
Mulut berdusta diiringi tawa.
Aku tak peduli. Bagiku, berdiri lebih berarti.
Berdiri di kaki sendiri.
Lalu berlari. Berlari. Berlari.
Kutinggalkan inti yang menyakiti.
Meskipun nyatanya tidak.
Darah tidak pernah lebih kental dari air bagiku.
Tapi, ya, ia memburu dan membelenggu.
Matilah rasa. Putuslah ikatan.
Biar hatiku Tuhan saja yang atur.
Kalian, diam dan hilang saja.
Biar aku bersama mereka yang bagiku lebih berarti daripada dunia dan seisinya.
Tuhan sembuhkan luka.
Tuhan sembuhkan luka.
Tuhan, aku bertanya.
Kenapa?

You May Also Like

0 feedback dari kalian