Tulisan pertamaku tahun ini. Patah-patah kutulis sembari kupandangi kemacetan Jakarta yang pelan-pelan terurai. Tapi tidak dengan isi kepalaku. Maka aku menulis sebagai upayaku mengurai kemacetan di dalam sana. Harapanku memadamkan riuh yang kutabuh sendiri. Hari ini rasanya panjang sekali. Lelah dan lungkrah. Badanku seperti ditinju bertubi-tubi dan pikiranku penuh distraksi sedangkan ragaku terus kesana kemari. Jam sepuluh malam dan aku masih berpakaian seperti tadi pagi... aku menyerah. Aku gagal mengurainya malam ini.
sebebas-sebasnya udara. sederas-derasnya air mengalir. begitulah aku ingin hidupku bergulir. membuka seribu pintu, menjelajah belantara baru, berjalan, berlari, bertelanjang kaki. tanpa belenggu di kakiku, kekang di leherku, beban di pundakku, dan… kata-kata di telingaku. aku ingin menjadi sepenuhnya aku. lalu suatu saat seribu tahun lagi ketika aku mati, tulisanku tidak. membara dan berapi-api.
Berhanyut-hanyut perasaanku.
Jatuh tergelincir.
Luruh mencair.
Seolah ada yang bergelayut.
Berat membelenggu, menyiksaku.
Enggan kulepas.
Lalu kubiarkan mengikisku.
Membentuk aku.
Selamat tahun baru..
Bagi seseorang yang selalu menemukan diksi untuk mengejawantahkan isi kepala, kali ini aku kehilangan kata-kata. Tidak hanya hari ini. Kemarin dan selumbari pun kalutku tak mampu lagi menjelma sekumpulan frasa. Segalanya berputar-putar berhenti di kepala, lalu *poof*, hilang begitu saja. Ingatanku menjadi semakin pendek. Seharusnya, sebagaimana yang sudah-sudah, semua yang hilang di kepala setidaknya tersimpan dalam tulisan. Tapi ternyata tidak kali ini...
Aku percaya bahwa takdir Allah pastilah yang terbaik. Pun ketika Allah memberikan cobaan. Bukan karena kita mampu dan sanggup, tapi karena kita akan dimampukan dan disanggupkan. Seperti awal tahun ini yang kuawali dengan berlari. Sedikit terbang tetapi membumi. Meskipun pada akhirnya sayapku patah. Sudahlah, toh ini bukan kali pertamaku terjatuh.
Aku tidak pernah tahu dari mana harus memulai. Seringkali aku tiba-tiba sudah berdiri diantara reruntuhan untuk bersiap membangun kembali. Seperti tahun ini. Ketika aku merasa sudah tiba saatnya, Allah mengambilnya begitu cepat seolah berkata belum dan bukan. Menunggu masih jadi takdir terbaik bagiku. Tidak apa-apa. Jalan hidupku sudah di luar perhitungan manusiaku. Dan aku baik-baik saja.
Allah sayang padaku. Prasangkaku pada Tuhanku dan prasangka Tuhanku padaku yang paling penting. Semoga... apa kata orang, aku tetap bergeming. Tuhan Penciptaku, Maha Tahu Tentangku.
Pagi ini aku bangun dan berharap untuk menemukan alasan lain kenapa aku harus terus bertahan untuk berjuang. Hari ini rasanya seperti aku sedang berlari-lari di hutan lalu tersesat tanpa penunjuk arah dan tak tahu jalan untuk keluar. Aku mengandalkan instingku yang lelah. Kalau hari ini belum bisa, mungkin besok atau lusa. Atau bisa saja minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau tidak sama sekali. Perbekalanku yang tidak seberapa ini hampir habis dan belum kutemukan air untuk kuminum dan tumbuhan liar untuk kumakan. Aku sendirian.
Aku sudah lupa rasanya keadaan di luar. Bayangan tentang masa depan dan masa laluku tertutup oleh pohon-pohon yang mungkin usianya bahkan lebih tua dari kakek buyutku. Hari ini, ribuan pertanyaan berdengung di kepalaku seperti suara kodok setelah hujan. Semua tentang bagaimana. Bagaimana jika ternyata aku tidak akan pernah keluar? Bagaimana rasanya jika tiba-tiba melihat keajaiban di balik pohon rindang? Harapan dan keputusasaanku bersahut-sahutan dalam kepalaku.
