• Home
  • About
  • Wanderbey
  • Contact
    • Email
    • WhatsApp
    • Line
  • Snap
facebook twitter instagram pinterest Email

haybeys

 Tidak semua orang dianugerahi dengan pemikiran matang dalam membuat keputusan dan memilih satu atau sekian banyak hal. Tidak pula denganku, yang lebih banyak mengandalkan jiwa impulsif mengendalikan sebagian besar keputusan yang memiliki efek jangka panjang dalam hidupku. Akhirnya, banyak waktu kuhabiskan untuk merenung memikirkan kenapa aku begini dan begitu. Tapi begitulah hidup, kata kebijaksanaan dalam diriku yang akhir-akhir ini mendadak hadir. Lalu seperti banyak orang lainnya, pada akhirnya aku lebih banyak menyesali hal-hal yang tidak kulakukan karena aku tidak cukup memiliki keberanian. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang aku berterima kasih pada diriku karena mengurungkan niatku.

Aku tidak merasa ada yang berubah dari diriku selain betapa dinamisnya perasaanku atas banyak hal. Sebentar merasa begini lalu kemudian begitu. Tapi ketika aku membaca tulisanku yang dulu, rasanya aku tidak mengenali diriku yang seperti itu. Seperti bawang, diriku seolah berlapis-lapis. Hal baru kutemukan setiap hari tapi beberapa hal enggan pergi. Seperti petir di hari yang cerah. Terkadang perasaanku tiba-tiba tak terarah. Aku merasa asing dengan isi kepalaku. Meski begitu, aku meyakini bahwa semua akan kembali baik-baik saja. Tidak ada yang kusesali. Bahkan untuk segala hal yang sampai saat ini masih menghantui dan belum sepenuhnya kupahami. Tidak ada muara pada ujungnya. Seperti seharusnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No feedback dari kalian
New Year, New Me. Begitulah kira-kira yang akan aku tuliskan ketika usiaku 12 tahun lebih muda dari hari ini. Diri mudaku yang selalu bersemangat setiap membuka lembaran baru, entah apapun itu. Mungkin karena saat usia kita masih berakhiran -belas, segala hal terasa seperti kesempatan baru. Ah, sungguh aku merindukan bagian diriku yang seperti itu. Meski banyak sekali kesalahan yang kulakukan, rasa-rasanya aku menjalani hari-hariku dengan penuh dan tak ada penyesalan yang tersisa. Aku bersyukur atas ketidakpedulian dan keberanian yang kugenggam erat kala itu. Karena hari ini, aku menjalani hari-hari dengan penuh hati-hati. Semoga diriku 12 tahun lagi, dapat memahami tanpa menghakimi.

Berbicara soal angka, tahun ini genap 12 tahun aku menulis disini. Ruang ini terasa seperti zona aman bagiku karena dimanapun aku menulis dan meninggalkan jejak, pada akhirnya disinilah aku kembali menyimpan kepingan cerita kehidupanku. Sepatah-sepatah. Karena bahkan aku sendiri kesulitan menyusun puzzlenya di dunia nyata. Tulisan ini seharusnya menjadi yang pertama tayang tahun ini, tapi entah karena menunda-nunda atau tiba-tiba otakku buntu tidak tahu mau menulis apa, semua terhenti. Lalu tiba-tiba saja Maret sudah datang lagi.
Share
Tweet
Pin
Share
No feedback dari kalian

 Tahun ini menjadi tahun paling tidak produktifku dalam menulis. Setidaknya di sini. Tapi bukan berarti aku tidak menulis sama sekali. Aku berpindah tempat. Dimana aku merasa lebih aman dan tidak ditemukan oleh orang lain selain diriku. Aku merasa akan bisa lebih jujur terhadap perasaan-perasaan yang aku rasakan. Lalu tanpa kusadari, "gemuruh" menjadi kata paling mewakili tahun ini. Perasaan marah yang hilang timbul seiring dengan kecewa. Lalu bahagia yang ala kadarnya. Dan banyak hal-hal statis yang patut disyukuri. Aku bertahan lagi.

Aku bersyukur atas segala hal yang kualami, kurasakan, kukeluhkan, dan kunafikan. Aku bersyukur atas segala kebahagiaan yang seringkali datang sepaket dengan kesedihan. Aku bersyukur atas semua orang yang kutemui, yang datang lalu pergi, yang datang lalu tinggal, yang melintas selewat, yang tak pernah saling sapa dan bahkan yang sekedar tahu nama. Aku bersyukur atas mata yang terbangun, nafas yang kuhirup, orang yang kucintai di sisiku dan hati penuh rasa sayang dan syukur. Aku bersyukur atas rasa syukur itu sendiri.

Terima kasih, 2022. Aku harap, 2023 datang lebih hangat dan menyenangkan...

Share
Tweet
Pin
Share
No feedback dari kalian

 Family is a complex set of traditions. Even though it should be a safe place to be yourself. Even though it should be a safe haven to not be a part of that tradition. But for some people, many people, they have to work their ass off just to be on their own. I called it syadz. I'm the syadz. I was born and raised differently. Sometimes I feel okay about it and sometimes I don't. But mostly I am. But now I'm not.

Share
Tweet
Pin
Share
No feedback dari kalian
Kepingan ingatan yang seharusnya kukubur dalam-dalam dan memang sudah kulakukan tiba-tiba menyeruak sejernih air minum satu tegukan. Jelas tanpa ilusi dan tidak berbayang seolah baru kemarin terjadi. Aku bisa apa? Hidungku menghianati dengan mengingat segala jenis wewangian yang pernah terhirup meskipun hanya sesaat. Sepetak melumat rindu haru biru. Entah aku bicara apa.
Share
Tweet
Pin
Share
No feedback dari kalian

 Tahun ini, aku lebih banyak mempertanyakan tentang ini dan itu. Memikirkan berulang-ulang. Mengolah rasa. Membuka rekam jejak ingatan. Menimbang-nimbang. Meskipun pada akhirnya lagi-lagi jalan buntu menuntunku kembali ke titik mula semu. Aku rasa semua orang membenciku, pikirku berkali-kali yang kemungkinan terbesarnya tentu hanya asumsiku seorang diri. Karena tentu saja manusia lainpun sama sepertiku, sibuk tentang dirinya sendiri. Lebih banyak tidak peduli.

Halo, diriku. Ada tiga jurnal menantiku untuk segera kubaca, pahami, ringkas dan kritisi tapi aku justru semakin asyik menulis disini. Mudah sekali rasanya mengurai kata-kata jika itu bukan soal tugas kuliah. Lagi-lagi, untuk yang kesejuta kalinya aku mengutuki keputusanku melanjutkan studi. Benar-benar beban hidup yang baru seolah kehidupanku ringan seringan kapas di mejaku. Tentu saja aku tau. Tetapi jiwa impulsifku menolak mentah-mentah pertimbangan akal sehatku. Halo, hari-hari begadang dan tidak pernah tidur di bawah pukul satu.

Ternyata aku jauh lebih bodoh dari perkiraanku. Wkwkwk. Tapi kalau bukan sekarang kapan lagi? Percayalah, hari ini aku sudah mencoba menghibur diriku puluhan kali sembari melihat Chaca tertidur lelap dengan nyamannya dan membuatku ingin segera bergabung. Yasudah, aku akan berhenti mengulur waktu dan kembali membaca jurnalku. Selamat malam.. Doakan tugasku selesai sebelum pukul satu :)

Share
Tweet
Pin
Share
No feedback dari kalian

 Di mataku, dunia rapuh serapuh hatiku. Akhir-akhir ini seringkali aku terus menerus menyalahkan ketidakcakapanku atas banyak hal. Juga tentang kenapa aku harus bertanggung jawab terhadap pilihan yang orang lain buat. Asumsi buruk memenuhi akalku dan sedang susah payah kutepis. Sedang. Aku masih berusaha sembari menuliskan ini semua. Bagiku saat ini menulis adalah obat yang tak dapat kutemukan penggantinya.

Dunia rapuh yang ditinggali oleh manusia rapuh. Atau mungkin dunia menjadi rapuh karena manusia rapuh sepertiku. Entah mulai dari mana aku harus mencari kekuatan untukku berdiri tegak tanpa penopang. Sungguh hanya diriku yang bisa kuandalkan untuk memerangi apa yang orang lain tak bisa jangkau dalam otakku yang pilu. Kuakhiri tulisanku, maka doakan keberhasilanku :)

Share
Tweet
Pin
Share
No feedback dari kalian
Newer Posts
Older Posts

Hello!

Who's Haybey

Who's Haybey
Haybey is 30 something years young used-to-be-social-media-junkie who loves to tell stories about her daily life

About Me

My photo
Haybey
Jakarta, Indonesia
Berpikir melanglang buana ke langit dengan hati tetap menapak bumi. Berkontribusi tanpa eksistensi. Politico UGM '12.
View my complete profile

Facebook

Friends

My Diary

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  January 2026 (1)
      • Patahan Pertama
  • ►  2025 (3)
    • ►  November 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  January 2025 (1)
  • ►  2024 (4)
    • ►  December 2024 (2)
    • ►  March 2024 (1)
    • ►  February 2024 (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  December 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  March 2023 (3)
  • ►  2022 (2)
    • ►  December 2022 (1)
    • ►  July 2022 (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  October 2021 (2)
    • ►  September 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (9)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  July 2020 (2)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  March 2020 (1)
  • ►  2019 (9)
    • ►  October 2019 (1)
    • ►  September 2019 (4)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  July 2018 (3)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (2)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December 2017 (1)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  March 2017 (1)
    • ►  February 2017 (3)
  • ►  2016 (5)
    • ►  September 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  December 2015 (1)
    • ►  September 2015 (2)
    • ►  July 2015 (2)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  March 2015 (2)
    • ►  January 2015 (3)
  • ►  2014 (6)
    • ►  December 2014 (4)
    • ►  October 2014 (1)
    • ►  June 2014 (1)
  • ►  2013 (9)
    • ►  November 2013 (3)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  January 2013 (4)
  • ►  2012 (47)
    • ►  December 2012 (1)
    • ►  November 2012 (4)
    • ►  October 2012 (9)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (3)
    • ►  June 2012 (2)
    • ►  April 2012 (4)
    • ►  March 2012 (7)
    • ►  February 2012 (8)
    • ►  January 2012 (5)
  • ►  2011 (26)
    • ►  December 2011 (12)
    • ►  November 2011 (6)
    • ►  October 2011 (5)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (1)
    • ►  May 2011 (1)

Find Me On

  • twitter
  • instagram
  • youtube

Created with by ThemeXpose