Bagi seseorang yang selalu menemukan diksi untuk mengejawantahkan isi kepala, kali ini aku kehilangan kata-kata. Tidak hanya hari ini. Kemarin dan selumbari pun kalutku tak mampu lagi menjelma sekumpulan frasa. Segalanya berputar-putar berhenti di kepala, lalu *poof*, hilang begitu saja. Ingatanku menjadi semakin pendek. Seharusnya, sebagaimana yang sudah-sudah, semua yang hilang di kepala setidaknya tersimpan dalam tulisan. Tapi ternyata tidak kali ini...
Empat hari tersisa sebelum tahun baru bermula. Biasanya, pada saat-saat seperti ini aku akan menghentikan laju lariku sejenak, menoleh ke belakang, menertawakan keputusan-keputusan gegabah yang kuambil, menyesali beberapa hal, lalu berpaling tak peduli. Tapi tahun ini sedikit berbeda. Aku tak lagi bisa membaca diriku, tidak juga dapat menebak arah berpikirku, karena semuanya serba tak menentu. Tidak pernah ada yang tahu masa depan kecuali jika mesin waktu tiba-tiba ditemukan. Tapi bagaimanapun itu, aku berharap setahun, lima tahun, sepuluh dan lima puluh tahun lagi, aku tidak sedang duduk dalam penyesalan. Semoga.